Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday32
mod_vvisit_counterYesterday229
mod_vvisit_counterThis week1227
mod_vvisit_counterLast week3026
mod_vvisit_counterThis month5341
mod_vvisit_counterLast month6940
mod_vvisit_counterAll days224565

We have: 29 guests online
Your IP: 54.198.185.195
 , 
Today: Aug 19, 2017

Tepatkah Mengukur Intensitas Kegiatan Fisik dari Keringat?

PDF Print E-mail
Monday, 27 April 2015 02:25

 

 

Keringat bukan indikator yang tepat untuk mengukur intensitas kegiatan fisik.

 

 

Tepatkah Mengukur Intensitas Kegiatan Fisik dari Keringat?

 

 

Orang-orang berkeringat saat olahraga. Keringat yang dihasilkan tiap orang tidak sama, bergantung pada metabolisme, jenis, dan durasi olahraga yang dilakukan. (Thinkstock)

 

 

 


Tubuh berkeringat sangat alamiah terjadi ketika kita melakukan aktivitas yang menggunakan energi atau pengaruh suhu udara. Namun tidak sedikit yang menganggap keluarnya keringat menandakan aktivitas fisiknya sudah cukup tinggi.


Padahal keringat bukan indikator yang tepat untuk mengukur intensitas kegiatan fisik orang dewasa maupun anak-anak.


"Keringat sangat bergantung pada tingkat metabolisme, fisiologis, dan faktor lainnya yang berbeda, serta dipengaruhi oleh suhu udara. Ada yang responnya terhadap suhu lebih sensitif daripada yang lainnya sehingga mudah berkeringat," terang dr. Sophia Hage, residen dokter spesialis olahraga dalam workshop 'Pola Aktivitas dan Gizi Seimbang untuk Tumbuh Kembang Anak yang Optimal' oleh Frisian Flag Indonesia di Jakarta, Kamis (23/4).


Ia menjelaskan, ketika anak-anak melakukan kegiatan dan suhu ruangan yang sama, masing-masing anak bisa saja mengeluarkan jumlah keringat yang berbeda. Maka dari itu tolok ukur yang sebenarnya objektif untuk menentukan intensitas aktivitas fisik yakni dengan memeriksa denyut nadi.


Memang tak mudah mengecek kadar aktivitas fisik yang dilakukan anak karena mereka belum bisa memeriksa denyut nadinya. Menurut Sophia, cara paling mudah adalah dengan melakukan tes bicara (talk test).


"Bila masih bisa berbicara dan bernyanyi tanpa terengah-engah saat melakukan aktivitas fisik tertentu, intensitasnya tergolong ringan. Bila menggunakan skala aktivitas dari 0-10, ini tergolong masih 5 ke bawah. Contohnya, jalan kaki dan sepeda," paparnya.


Ia melanjutkan, jika intensitasnya sedang, seseorang masih bisa diajak bicara tanpa terengah-engah dalam satu napas tapi tidak bisa bernyanyi. Skala aktivitas fisik ini mencapai 5 hingga 6. Contohnya yakni jogging atau bersepeda dengan kecepatan sedang.


"Kalau sudah tidak bisa berbicara dan bernyanyi, dan sudah terengah-engah, intensitasnya sudah berat. Skalanya pun sudah 6 ke atas, contohnya yakni lari," ujarnya.


Sophia merekomendasikan anak-anak usia 5 sampai 12 tahun untuk melakukan aktivitas fisik setiap hari dengan jumlah waktu minimal 60 menit secara akumulasi demi memperoleh manfaat kesehatan secara maksimal.


"Untuk anak-anak diusahakan setiap hari dengan intensitas sedang sampai berat, dengan durasi minimal 1 jam atau jangka waktu 1 sampai 2 jam. Tipenya pun jangan hanya aerobik saja, tetapi tambahkan pula dengan latihan kekuatan otot," tuturnya.

 


(Sumber: health.kompas.com, nationalgeographic.co.id)

 


 

Last Updated ( Monday, 27 April 2015 02:33 )
 
RSUD Dr. ADJIDARMO
Jl. Iko Jatmiko No. 1 Rangkasbitung Lebak - Banten (0252) 201313