Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday180
mod_vvisit_counterYesterday278
mod_vvisit_counterThis week1336
mod_vvisit_counterLast week1515
mod_vvisit_counterThis month6965
mod_vvisit_counterLast month6940
mod_vvisit_counterAll days226189

We have: 84 guests, 3 bots online
Your IP: 54.162.3.15
 , 
Today: Aug 24, 2017

Menerka Masa Depan Lewat Fiksi Ilmiah

Thursday, 26 June 2014 03:44

 

Prediksi ini sulit dan sering salah, namun menerka-nerka lewat fiksi ilmiah bukanlah hal yang sia-sia


robot

 

Bagaimanakah gambaran dunia di masa depan? Ketika robot menjadi lebih pintar dari manusia apakah hubungan keduanya bisa menjadi antagonistis?

BBC bertemu dengan salah satu penulis fiksi ilmiah terkenal asal Kanada, Robert Sawyer dan membahas wacana ini.

Fiksi ilmiah seperti yang ditulis Sawyer—di antaranya Flash Forward, The Terminal Experiment, Hominids, dan Mindscan—mungkin bisa dianggap sebagai 'prediksi' akan apa yang terjadi di masa depan.

Tentu prediksi ini sulit dan sering salah, namun menerka-nerka lewat fiksi ilmiah bukanlah hal yang sia-sia, kata Peter Day.

Sawyer dalam wawancaranya dengan Day mengatakan bahwa buku-bukunya mencerminkan masa depan yang optimis. Hari ini lebih baik dibanding 50 tahun yang lalu dan dalam waktu 50 tahun, keadaan akan menjadi lebih baik lagi.

Setidaknya inilah yang terjadi di Tiongkok, kata Sawyer, berdasarkan apa yang berubah dalam 30 tahun terakhir. Dia optimistis—bukan kepada teknologi—tetapi manusianya.

Sawyer memberikan contoh bagaimana pria kini terlibat dengan membesarkan anak-anak di negara barat dengan cara yang belum terbayangkan 60 tahun yang lalu.

"Fiksi ilmiah adalah ilmu yang sama seperti ilmu sosial dan teknologi," kata Sawyer.

Robot terlampau cerdas

Sawyer optimistis dengan hal yang membuat banyak orang khawatir: yaitu ketersediaan energi. Dia mengatakan dengan pendekatan fiksi ilmiah-nya, energi terbarukan akan membawa biaya energi ke titik mendekati nol.

Selain energi, sejumlah ilmuwan yang mempelajari masa depan—terutama Ray Kurzweil dari Amerika—mengangkat wacana tentang kecerdasan buatan yang mungkin melampaui manusia pada tahun 2050-an.

Namun menurutnya tidak ada alasan untuk takut kepada kecerdasan buatan ini: "Ketika kita memiliki mesin yang cerdas—dan kemudian dua kali lebih cerdas dibandingkan manusia tidak ada alasan mengapa hubungan tersebut tidak bisa sinergis," ucap Sawyer.

Dia mengatakan kelemahan terbesar orang-orang yang takut komputer pintar atau robot "adalah gagasan bahwa kecerdasan yang super cepat dan super kuat nantinya akan dipengaruhi oleh keserakahan manusia".

(Sumber: bbc.co.uk/indonesia)

 
RSUD Dr. ADJIDARMO
Jl. Iko Jatmiko No. 1 Rangkasbitung Lebak - Banten (0252) 201313